Peluncuran plus bedah buku di dalam masjid, mungkin bukan hal luar biasa. Tapi ruang utama Al-Ghifari sesak hari itu, sebab ada Ustadz Anis Matta hendak mengisi acara. Sama sekali saya belum terlambat, ketika terpaksa hanya kebagian tempat lesehan di barisan belakang saja.

Model Manusia Muslim Abad 21 adalah judul bukunya. Buku yang kemudian banyak dibicarakan sebagai penggugah inspirasi. Buku yang kerap disebut sebagai karya khas seorang strategist dan pelahap pustaka serbaneka yang alumni LIPIA itu. Buku yang mungkin juga membuat pembacanya merasa “terbebani” begitu rupa.

Tak heran jikalau seorang trainer kesohor pun merasa nyaman di barisan peserta. Lalu malah menjadi penanya pertama, yang seperti biasa, mengungkapkan kekagumannya kepada sang pembicara. Sebuah pembuka sesi tanya-jawab yang lebih terdengar sebagai perbincangan penuh rindu.

Pada sesi diskusi tersebut, Ustadz Anis sempat-sempatnya berbagi rekomendasi praktis. Rekomendasinya tentang kitab tafsir itu, seingat saya, membuat banyak peserta jadi tergelak. “Jangan dulu langsung membaca Dzhilal, baca dulu Ibn Katsir, Jalalain, dan Al-Manar,” anjur beliau.

Serba sekilas, Ustadz Anis mengingatkan lagi tentang proses kreatif Tafsir Fi Dzhilalil Qur’an yang tuntas selama Sayyid Qutb dipenjara di penjara. Selain mengandalkan ketajaman ingatan, karya tafsir Ibn Katsir pun disebut-sebut banyak mempengaruhi tafsir Dzhilal yang konon kental adonan sastranya itu.


Leave a Comment