Pertemuan dengan Pak Presiden mungkin bukan pengalaman 230 juta rakyat Indonesia. Wajar kalau kemudian, karena kelangkaan yang demikian, siapapun yang bertemu dengan Pak Presiden akan antusias merekam momen-momennya.
Pengalaman bertemu dengan wakil rakyat, mungkin kalah luar biasanya. Sebab jumlahnya yang 550 itu kan lumayan banyak juga. Menjadi rada luar biasa karena sebab sederhana, yakni adanya persepsi umum tentang banyaknya aleg “elitis”; aleg yang dunianya cuma gemerlap Jakarta. Dari lobi ke lobi di hotel-hotel bertarif tinggi. Dari deal ke deal, (barangkali sambil) diselingi “peluk-peluk” penawar gigil.
Mengisi masa reses, seorang aleg DPR RI berdiskusi dengan konstituennya. Aleg DPRD Bogor yang separtai dengan beliau, juga ikut serta. Logat lokal begitu kental meluncur dari yang terakhir tadi, membuat saya merasa benar-benar sedang di tatar Sunda, di Indonesia.
Tanya jawab berlangsung ramai. Dengan ragam gaya bicara khas jelata, gedung pertemuan di pusat kota itu layak merasa tersindir. Begitu juga dengan gemerlap bangunan di pusat keramaian publik di sekitarnya. Sebab rupanya, banyak sekali persoalan (yang sering dianggap) “kecil” masih betah hadir di zaman canggih ini.
Saya sendiri hanyalah penyimak. Bukan penyimak yang baik, memang, sebab tidak memberi perhatian penuh. Bahkan sedikit-sedikit, mata terpejam. Bukan apa-apa, beberapa waktu sebelumnya, aleg yang bersangkutan juga telah menyambangi mahasiswa di forum serupa.
Kalau kedua forum itu dibanding-bandingkan, terlihatlah pula adanya dua gaya penyampaian yang berbeda. Ada retorika dan kritisisme citarasa mahasiswa. Tapi di lain waktu dan tempat, ada kepolosan berbahasa yang khas lagi sederhana. Ada isu-isu bangsa dan mendunia, tapi di malam itu, ternyata ada rentetan persoalan nyata di lingkungan dekat murba.
Tapi yang membuat kantuk sirna, adalah justru fragmen kecil seusai acara. Sang aleg pusat itu, ternyata tak buru-buru pergi ke buaian Jakarta. Tapi, Ia antar dan temani rombongan konstituen yang hendak pulang. Kendaraan angkot carteran jadi pilihan. Kelihatannya aleg itu akrab sekali dengan mereka, membuat saya berpikir: pasti ini bukan kegiatan sekali dua.
Sisi protes saya, selintas masih menyangka: ah, mungkin wajarlah untuk mendulang suara. Politik dan sedikit sandiwara itu kan paket yang lebih sering lengket. Tapi ketika melihat aleg pusat itu ikut naik angkot bersama rombongan terakhir, cengharlah saya. Kaget juga.
Yah, tapi mungkin sedikit yang bakal terkejut, jika saya beritahu: aleg pusat itu bernama Ustadz Untung Wahono.
No Comments Yet