Bang Imad pernah tampil di TV mengkritik keras demokrasi. Bagi beliau, adalah musykil membangun masyarakat dengan menyamaratakan “kualitas suara” antara pemabuk dan orang baik, antara yang berpendidikan dengan yang tidak.
Gaya bicaranya terdengar keras. Membuat kuliah subuh jadi tampak sedikit “ganas”. Berlatar hijauan taman dan gemericik air di studio salah satu TV swasta, Bang Imad duduk dikelilingi beberapa mahasiswa yang jadi audiens. Tapi ya, tiga puluh menit itupun berlalu seperti 30 menit sejenisnya di berbagai TV swasta di pagi buta.
Hanya, usai shalat Jum’at itu kejadiannya berbeda. Bukan di studio, tentu. Bang Imad baru saja tiba di Masjid Ukhuwah Islamiyah. Ada acara rutin setiap pekan di bulan Ramadhan. Tema diskusi, masih terkait tentang tafsir Al-Qur’an.
Tapi begitu tahu bahwa salah seorang pembicara tercium bau-bau JIL-nya, beliau langsung memberi kata perpisahan. Sebagai sebuah sikap, boikot Bang Imad siang itu memang berani. Semakin berhasil ketika ternyata salah seorang yang duduk di kursi depan, kemudian terprovokasi, dengan menggunjing dan menyesalkan sikap Bang Imad itu tadi.
Allaahuyarham Bang Imad seperti ingin berbagi pelajaran sederhana siang itu.
No Comments Yet