La Tahzan, buku laris itu, dibedah oleh dua pembicara: Ustadz Rahmat Abdullah dan Ustadz MR Kurnia. Seraya mengingat latar belakang keduanya, kejadian heboh apa yang kira-kira bakal ada?

Auditorium Thoyib Hadiwijaya sudah dipadati peserta. Untuk sebuah buku laris, itu memang wajar saja.

Seperti ingin menunjukkan penghormatan kepada Syeikh ‘Aidh Al-Qarniy, penulis La Tahzan, Ustadz Rahmat membedah buku itu tidak melalui telaahnya sendiri. Melainkan, sambil “menumpang” kepada karya lain dari penulis yang sama.

Jika saya tak keliru, judulnya ialah 30 Kunci Kebahagiaan. Khas beliau dalam menulis, juga terbawa saat menjadi pembedah buku. Ketigapuluh kunci itu ditutur saling berkait. Sehingga jalin kelindannya saling menguatkan satu sama lain. Dan saya kewalahan mencatatnya.

Yang pasti, Ustadz Rahmat mengawali kupasannya dengan menceritakan serba sedikit riwayat Syeikh ‘Aidh Al-Qarny. Tentang penjara dan fitnah yang mendera, tentang produktivitas menulisnya, dst.

Buku “As-Sa’adah” (Kebahagiaan) sendiri, beliau pilih dengan alasan, (dalam pemaknaan saya): bahwa benih-benih La Tahzan itu tersemai di sana. Sebagai catatan, buku dimaksud, ditulis lebih awal dibanding La Tahzan.

Pada sesi berikut, Ustadz MR Kurnia memberi penjelasan yang sama menariknya. Hadir dengan slide presentasi, Ustadz Kurnia menjlentrehkan teori kebahagiaannya sendiri. Beliau menekankan kepada “ketaatan” sebagai sumber kebahagiaan. Ketaatan dimaksud ialah ketaatan kepada syariah. Hati tentram dan hidup bahagia apabila petunjuk Allah ditaati sebagaimana mestinya.

Ujung pembicaraannya, jelas seperti gampang ditebak, menyerempet pula tema khilafah. Tapi untuk yang terakhir tadi, sepertinya Ustadz MR Kurnia menuturkan dengan mengalir, tak menekankannya secara berlebihan.

Lalu apa kejadian hebohnya? Debat perihal khilafah? Adu argumentasi soal demokrasi? Tengkar mulut masalah pemilu?

Tidak, tidak ada semua itu. Malah keduanya saling ramah. Maka aura ukhuwah tampak jauh dari dibuat-buat. “Al-akh kariem,” begitu panggilan dari Ustadz Rahmat Abdullah. Kepada siapa? Tentu saja kepada Ustadz Rahmat yang kedua, Ustadz Muhammad Rahmat Kurnia.


Leave a Comment